Senin, 06 April 2009
M.I.Firmansyah ini terbilang nekat sekali. Bayangkan, beli All New Honda Jazz 2008 bukannya dirasakan dulu, melainkan sedan hatchback seri RS itu langsung dibawa ke rumah modifikasi Autoline di Jl Arteri Kedoya, Jakarta Barat. "Pokoknya, tampilan Jazz saya harus beda dengan yang lain," ungkap Handy.
Untuk memenuhi ambisinya, Handy coba mencari-cari model yang cocok melalui dunia maya. Akhirnya ditemukan aliran racing style yang dipadu dengan Toyota Crown JDM sesuai keinginannya.
Yang dimauinya, desain bumper lebar dikombinasi dengan sudut tajam di kedua sisi yang sangat identik dengan Japan street car. "Air dam di bumper yang besar dan berbentuk V itu mencirikan besutan kencang," jelas Handy.
Agus, punggawa Autoline, tidak menemui kesulitan memenuhi selera Handy. Material yang diandalkan fiberglass dengan pembuatan moulding sesuai konsep awal. Pengerjaannya memakan waktu tiga minggu.
Akibat dari body custom, bumper memang terlihat rebah. Tampilan mobil malah jadi cingkrang lantaran si pemilik enggak mau memakai lowering kit. Agus harus putar otak agar velg Lenso Mesh 18 x 8 inci ini bisa mepet ke bibir fender. Akhirnya, dipakailah kondom pada over fender yang turun 3 cm dari fender aslinya dan mengikuti garis nut bumper depan.
Yang menarik, desain ujung knalpot berbentuk trapesium. Awalnya, bentuk bumper belakang eksotis ini lurus rata. Setelah melihat Crown JDM, bumper dicoak dan muffler pajangan ini disesuaikan kemiringannya sehingga tampak ekstrem.
Untuk menguatkan tampilan Jazz penganut racing style ini, tutup mesin dibuat dari bahan karbon, termasuk diffuser, gril, sampai sayap belakang. Bodi berkelir putih dikasih stiker striping. "Warna kombinasi merah, putih, dan hitam membuat visualisasi lebih mantap," tegas Handy.
Selain bodi, interior pun dibikin senada, seperti jok standar diganti model semi-bucket dari Recaro. Kelir asli hitam dibungkus dengan red blood dari bahan yang sama. Lantas dasbor juga dibikin motif carbon fiber plus ada motif putih yang pakai printing.
Sementara ruang bagasi disulap jadi tempat perangkat audio Racikan Idola Audio dan mampu menghasilkan dentuman sampai 145 Db. Handy mengaku ini belum full.
Minggu, 05 April 2009
Tampilannya sih seperti masih standar, kecuali sayap belakang. Justru Odry banyak menempelkan komponen impor pada Honda Civic Type R 2008 miliknya itu. Mari kita bedah bagian per bagian.
Sebagai orang bertipikal perfeksionis, Odry memang lebih mengutamakan orisinalitas. Makanya untuk eksterior dipesan dari Jepang langsung. Seperti kap mesin dan tutup bagasi bermotif serat karbon diorder dari Spoon yang memiliki khas guratan dan bentuk serba tajam. Penggantian ini juga bertujuan mereduksi bobot lantaran ia suka balapan di sirkuit Sentul.
Untuk kabin, Odry mengubahnya dari standar menjadi bernuansa "cepat". Dasbor pun jadi sasaran, diubah dengan motif serat karbon mirip dengan yang di luar. Yang dibanggakannya, produk original equipment manufacturer (OEM) Mugen ini hanya ada satu di Indonesia dan terpasang pada mobilnya. Makin kentallah aroma racing pada Type R putih ini.
Langkah Odry memang tidak setengah-setengah. Dari bodi dan kabin, ia masuk ke dapur pacu dan kaki-kaki. Untuk ram air system pada Civic Type R FN2 ini, dipilih dari produk K&N yang bekerja sama dengan Gruppe M. Menariknya, bagian itu dibuat dari bahan karbon dengan FR 0511. Label asal Jepang ini dikenal sebagai master saluran hawa mesin. Penggantian itu mampu mendongkrak tenaga 11 hp dan torsi 1,2 kg-m.
Untuk instalasi, kover plastik yang ada di luar kaca harus diganti satu set air intake asli Jepang. Prosesnya memang agak sulit karena harus membongkar plastik pelindung di dasar wiper untuk menempatkan corong penangkap angin yang diletakkan di belakang kap mesin.
Cuma itu! Tengok bagian buritannya. Selain ada diffuser, knalpot Mugen ikut menambah tenaga yang lumayan. Menurut data dari Mugen Jepang, penambahannya berkisar 5-10 hp jika di-tuning dengan tepat. "Kalau lagi kencang, suaranya asyik banget dan menambah adrenalin untuk terus bejek gas," bangga Odry.
Tenaga kian yahut kala bahan bakar pertamax plus dicampur dengan bensol. Raungan yang keluar dari pipa katalis berdiameter 2 inci ini membuat jantung ikut terpompa, apalagi ditambah menari manuver di tikungan lantaran ditunjang suspensi HKS Hypermax III.
Luar biasa! Padahal, setelan Civic Type R ini masih medium position di angka 15.
Mengubah interior mobil bernuasa bar bukan terobosan baru dan sudah dilakukan beberapa tahun silam. Steven punya obsesi memindahkan konsep bar and lounge di besutannya, Toyota Kijang, dipadu dengan audio.
Bukan sekadar untuk gaya-gayaan, melainkan ketika pergi berlibur ke pantai, ini dibuat untuk merasakan suasana gemerlap lampu diiringi dentuman musik dan deburan ombak sambil menikmati minuman alkohol. Jangan sampai mabuk, lho. Nanti enggak bisa pulang.
Desain bar yang dilakukan Steven ini juga mungkin berkaitan dengan kuliahnya yang mengambil jurusan perhotelan di Universitas Pelita Harapan, Tangerang. Steven lantas menceritakan obsesinya itu pada Tonny Susilo, instalatur audio Sound Motion yang menginginkan bar berjalan dipadu dengan perangkat audio.
Tonny pun harus putar otak untuk mewujudkan order dari Steven, terutama komposisi kosmetik harus terlihat harmonis karena yang dipakai banyak sekali. Mulai dari pembuatan mini bar, pemasangan cool box, penutup akrilik, lampu LED putih, sampai penempatan botol-botol minuman alkohol.
Sebelum menata ruang interior Kijang, Tonny melihat foto-foto desain audio dan bar. Sebagai tahap awal, penggarapan pertama adalah membuat bar dengan bahan akrilik 9 mm untuk meletakkan botol dan gelas yang dirancang menggantung. Dudukannya terbuat dari besi stainless steel berdiameter 1 mm yang dibaut ke atap, sedangkan untuk tutup kosmetik audio pakai akrilik 5 mm.
Untuk bikin kesan bar yang kuat, tempat minuman dari bahan plastik ukuran (diamater) 20 cm diubah fungsi sebagai tempat bir yang sudah dimodif custom dengan tambahan selang untuk mengeluarkan alkohol.
Penempatan botol-botol alkohol tak cuma di belakang, tetapi tersedia di depan laci penumpang depan. Agar rona warna menyala, digunakan LED putih yang ditanam di akrilik sebanyak 1.000 unit.
Untuk pengaturan speaker, Tonny melakukan kreasi sendiri. "Bahan konus-nya pakai paper dan magnet, pesan dari pabrik speaker," ujar Tonny, sedangkan lilitan koilnya dibuat sendiri disesuaikan dengan frekuensi sebaran yang diinginkan. Rentang frekuensinya, terang Tonny, diatur 63Hz sampai 4Khz. Setelah usai merakit speaker, baru kemudian dibuatkan X-Over pasif dengan slobe 12 dB.
Mau tahu seperti apa mobil sport Honda masa depan? Mr DreW—sebut saja begitu namanya—mengapresiasikannya dengan Honda Civic Genio 1994 yang dibentuk concept sport car. "Harus tetap nyaman, user friendly, fungsional, dan enggak malu-maluin kalau ikut kontes," ujar maniak mobil buatan pabrik Soichiro Honda ini.
Berarti, fokus utama modifikasinya pada teknik body conversion yang mengacu eksterior rendah sebagai ciri mobil sport. Kebetulan mobil sport Honda diberi kode SX, di antaranya NSX.
Untuk mewujudkan tampilan, jelas, bodi harus dipermak. "Hampir seluruh bodi dibuat ulang dan custom," papar Lutfi Kurrahman, modifikator Pro Mobile yang membidaninya. Jadi, dari sedan lawas itu, hanya sasis yang disisakan.
Diakui oleh Lutfi, dalam membuat bodi, tingkat kesulitan didapat pada bagian belakang. "Sebab, buritan sport car enggak boleh panjang. Nanti jadinya malah aneh lantaran enggak sejalan dengan depannya (kap mesin)," ungkap Lutfi. Bagaimana membuat bagian belakang tampak seksi, tetapi tetap memperhatikan nilai proporsional dan harmonisasi dengan bentuk atap dan dimensi ruang mesin.
Maka dilakukan penggeseran (mundur) pilar B sekitar 5 cm. Penyesuaian bentuk dilakukan karena pemakaian konstruksi 2-doors dari Honda Estilo yang daun pintunya lebih panjang. Kemudian, ketinggian pilar-pilar disunat sekitar 8 cm dan khusus yang ke belakang, atap dibuat miring menuju bagasi agar tarikan nut dan pilar C tak terlihat dipaksakan. Kaca belakang terpaksa dibuat ulang.
Untuk desain custom body kit, ada 3 lapisan yang saling melengkapi penampilan. "Jika salah satu dilepas, penampilan body jadi beda," bilang Lutfi. Ide edan ini sebenarnya mirip lips bumper. Bedanya, masing-masing rangkaian membantu konstruksi penampilan sampai ke atas.
Enaknya, model bisa dibuat sesuai selera. Sebisa mungkin hindari model yang memotong langsung desain nut body. Agar mudah dilepas dan tidak mengganggu tampilan bagian lainnya, perekatannya menggunakan double tape atau baut kecil, dengan menempatkan lokasi dudukan yang tersembunyi.
Mengenai warna, sebenarnya diinginkan candy tone violet. Kondisi kurang cahaya menjadi warna pink. Untuk mendapatkan warna seperti itu, menurut Lutfi, dibutuhkan warna dasar hitam biar warna atasnya bisa terangkat dan enggak mati.
Aplikasi paling canggih dari modifikasi ini adalah adanya bronze pada bagian bawah mobil, dan Lutfi yakin ini bakal jadi tren di Tanah Air.
Tampilan sudah menunjukkan sport. Lantas, apakah ia juga didukung dengan kegaharan mesin? Tentu! Pada dapur pacu dilakukan engine swap Honda B20 + B16 dengan menggunakan piston Wiseco 85 mm. Banyak komponen HKS dipakai untuk mendongkrak tenaga, seperti intercooler, cam gear, blow off valve, filter udara sampai olinya
AWAS, jangan tertipu! Dilihat dari gril, bumper, dan lampu depannya, Anda pasti dengan penuh keyakinan menyebut mobil ini dari Amerika, Opel Blazer. Sebenarnya, sasis mobil ini adalah Toyota Kijang pikap keluaran 2001 milik Bayu. Dan Amin Kurnia, pentolan Indonesia Kijang Club yang juga modifikator bengkel Spectrum Body Works, punya sensasi baru memodifikasi Kijang yang menghabiskan waktu sembilan bulan itu.
Ide kreasinya ingin menciptakan "Local Truckin Lowrider", pikap bergaya Amerika, tapi dengan bahan lokal. Untuk mewujudkan itu, mau tak mau bodi dibikin lebih panjang sekitar 1,2 meter dari panjang sasis standar Kijang. Lalu, bagian atap dipotong (chop top) dan ditambah pelat sekitar 4 cm agar sudut pilar A tidak berubah.
Dengan penambahan itu, Amin memanfaatkan peluang melebarkan pintu dengan memundurkan pilar B 45 cm. Tujuannya, menyediakan ruang kabin di belakang jok yang menjadi ciri khas pikap Amerika.
Pemanjangan sasis menjadi lucu dan kurang menarik kalau keempat roda standar hanya diganti yang lebih lebar. Dan seperti kebanyakan pikap di Amerika yang menggunakan empat roda pada bagian belakang, konsep ini juga diterapkan pada Kijang. Otomatis, dua roda tambahan itu dihubungkan dengan gardan tambahan yang disambungkan dengan lengan ayun buatan sendiri.
"Model independen mirip Suzuki Vitara," kata Amin. Bahannya menggunakan pipa 4 milimeter yang dilas pada sasis di belakang roda belakang. Agar tidak bergeser kiri dan kanannya, lengan ayun diberi besi as dari kiri dan kanan. Keenam roda memakai velg Honda Odyssey standar yang di-custon reserve offset sehingga offset-nya jadi nol.
Menariknya, model buka tutup kedua pintu model zaman dulu dibuka dari pilar A. Khusus untuk pintu penumpang (kiri) buka-tutupnya memakai sistem pneumatic (berdasarkan tekanan udara). Konsep ini juga diterapkan pada kap mesin dan pergeseran bak bagasi yang di dalamnya sarat dengan perangkat audio. Sementara itu, buka tutup pintu pengemudi memakai gerakan motorize lewat motor parabola. Begitu juga dengan tutup bagasi. Hebat!
Rabu, 01 April 2009
Mobil berbodi gambot tidak selalu identik dengan mesin bertenaga besar berkarakter delapan silinder berkonfigurasi V. Contohnya Chrysler Valiant Charger 1973 yang oleh sang pemilik, Widitya Prayudi, dapur pacunya dibiarkan sesuai aslinya. Konsentrasinya lebih pada mendandani, baik eksterior, maupun interiornya.
Terlebih, pabrikan mainan die cast Jada Toys bikin versi Muscle Machine, atau Hot Wheels yang sudah merombak bodi sedan gambot itu tampil menjadi lebih cantik, tanpa kehilangan ke-macho-annya. Didit pun terinspirasi untuk mendandani Valiant Charger produksi Australia itu ke gaya Amerika.
Seperti bagian depan—yang klasik dengan lampu bulat—diubah. Apron depan dirancang ulang, berikut detail fender-nya. Konsepnya mengarah ke Dodge Charger buatan 1968 dengan bentuk bilah gril dari bahan pelat menutupi seluruh apron. Termasuk lampu utama yang tersembunyi di balik gril dan sistemnya retractable. Dengan demikian, tampilan menjadi lebih sporty.
"Untuk lampunya, saya pakai punya Holden, lalu ditutupi pelat yang bisa bergerak naik turun dengan bantuan power window," jelas Didit. Efek bodi rebah dan polos, dibantu kehadiran dua lampu kabut serta "kumis" dari pelat.
Selain depan, bodi samping dan belakang ikut disentuh. Misalnya panel samping dekat kaca samping segitiga turut ditutup dengan bahan pelat. Kemudian, lekukan seksi di buritan sedan fastback ini cukup banyak dimodifikasi. Di antaranya, bagian lampu mika yang sengaja dibuat custom.
"Aslinya saya simpan, bentuk lekukannya kurang sangar, maka gantinya dari lampu Suzuki Jimny," papar pemilik bengkel Automedic. Bumper besi mengikuti lekukan lampu mika aslinya. "Sedikit dipapas bagian samping, dibuat tegak dan langsung nempel dengan bodi supaya tambah ganas," lanjut Didit.
Didit juga merombak sisi interior yang tidak sedikit. Tengok dasbornya; yang asli tinggal bagian atasnya. Adapun bagian tengah sampai ke bawah diganti dengan pelat galvanis agar terlihat polos dan menyatu setelah tombol-tombol lampu, wiper, dan jok elektrik dibuat dalam satu konsol diletakkan di tengah.
Jok yang dipakai bekas punya Audi didapat dari "kampakan". Jok ini bisa disetel naik-turun secara elektrik yang dilapis bahan semi-kulit berikut door trim. Kemudian, tuas transmisi matik, yang semula berada di konsol tengah, dipindahkan ke kolom setir sebelah kanan yang mekanismenya diubah dengan sistem kawat siling.
Modifikasi bolt on sudah bosan bagi Aji Kurniawan. 'Karya gilanya' coba diterapkan pada sedannya, Nissan Infiniti Q30. Paling unik, gerak air suspension bisa dilihat dari layar monitor. Asyiknya, kalau badan terasa pegal, tersedia pemijat yang bisa bekerja sambil Anda menyetir.
Dari tampilan eksterior, tak ada yang ekstrem. Terkecuali pada bagian belakang sepatbor depan (perbatasan dengan pintu depan) dibikin lekukan, hasil kreasi custom. Plus, velg Kranze LXZ ukuran 19 inci dengan ban profil 215/35ZR/R19 dan 235/35ZR/R19 bentuk donat.
Monitor TV
Meski ceper abis, Aji tak takut kalau keempat ban bakal menggesrek bagian dalam sepatbor karena sudah dilengkapi sistem air suspension model 4 titik. Artinya, masing-masing roda bekerja secara sendiri-sendiri, "Karena setiap ban sudah punya selenoid. Jadi tinggal memisahkan kinerja air sus pada keempat roda dengan remote di kabin," papar Aji.
Untuk mendapatkan gerakan naik-turun yang cepat mengandalkan kompresor baru berkode 480C sebanyak 2 unit, menggantikan standarnya. Kelebihan kompresor memiliki dimensi motor dan tabung lebih besar sehingga memungkinkan penyerapan dan pelepasan udara lebih cepat.
Keunikan lainnya, kinerja air sus bisa diawasi dengan kamera CCTV yang disambungkan pada empat monitor TV di balik bagasi. Semestinya, layar itu ditempatkan di ruang dalam kabin sehingga penumpang bisa melihatnya, sekalipun malam hari karena dikasih lampu LED berwarna putih.
Jok pijat
Di sini karya gila Aji patut diacungi jempol. Jok standar depan tetap dipertahankan, tetapi pengemudi tak bakal merasa pegal sebab sudah diaplikasi jok pijat layaknya mobil-mobil mewah.
Langkah custom-nya terbilang mudah, hanya menggunakan alat pemijat konvensional bertenaga listrik yang banyak dijual di supermarket. Perangkat itu dimasukkan ke dalam jok. "Pokoknya tinggal dibobok aja busanya seukuran alat pijat, lalu sambungkan kelistrikannya," komentar Aji.
Untuk memodifikasi jok itu, biaya enggak lebih dari Rp 1 juta, dengan rincian alat pijat berkisar antara Rp 500.000 dan Rp 800.000 serta pembongkaran jok berkisar Rp 300.000.
Kalau dilihat mata, jujur saja, tak ada yang istimewa dari BMW 318i punya Naflin ini. Ceper abis, velg lebar (pakai iForged Marquish) dan celup sudah dilakoni sejak beberapa tahun silam. Malah, sedan bikinan pabrikan Jerman ini enggak bisa diajak jalan. Ngebut dengan kecepatan sedang saja harus merayap.
Sekalipun begitu, bukan berarti mobil ini tak punya keistimewaan. Ada! Terutama pada lirikan mata (head lamp) yang harganya mencapai Rp 22 juta. Itu termasuk angle eyes. Wuiiisss! Apa hebatnya? dan dilihat secara kasat mata, enggak ada bedanya.
Memang, dengan lampu utama standar bagaikan anak kembar. Yang membedakan dengan lampu pengganti milik BMW 330i ini, posisi lebih lebar ke dalam sekitar 1,5 cm. "Sepintas seperti tak ada perubahan," tegas Bernard dari Clue Audio yang memodifikasinya.
Untuk mengetahui sudah adanya pergantian lampu, tatapkan mata pada kap mesin dan fender. Modelnya lain dan ujung lampu dengan gril cukup dekat.
Masih soal lampu, kini beralih ke belakang. Di sini, Naflin menginginkan lampu standar diganti punya M3. Lagi-lagi remaja ini harus merogoh kocek sebesar Rp 6 juta untuk lampu itu saja.
Perubahan tampak jelas, untuk bisa menempel ke bodi harus melakukan perombakan karena porsinya lebih besar ke atas sebanyak 2 jari dan ke samping sebanyak setengah jari.
Walau pergantian lampu masih satu keturunan keluarga butuh penyesuaian kelistrikan (termasuk lampu belakang). Mau tak mau ECU harus diriset agar listrik yang mengalir benar-benar pas. Untuk risetnya, Bernard mengaku diserahkan kepada BMW dengan ongkos sekitar Rp 300.000.
Itu saja keistimewaannya? Masih ada, tetapi enggak istimewa banget sih. Seperti interior, tengok setirnya. Pada bagian tengah, selain sudah dibungkus, juga ada layar monitor kecil. Fungsinya, memonitor bagian belakang kala parkir.
Pindah ke bagasi. Ketika dilihat, bagian itu seperti biasa saja. Ketika remote dipencet, ruang bagasi yang tampak rata itu bergerak mengeluarkan seperangkat power dan layar monitor 17 inci.
Untuk menggerakkan semua itu menggunakan 4 motor, meliputi 3 motor power window dan satu motorize dari Auto Lec. Rinciannya, 2 motor difungsikan membuka 2 power Rockford monoblock serta gerakan ke kanan dan ke kiri. Setelah itu, dengan power Auto Lec power tadi diangkat ke atas kemudian menjulur ke luar bagasi sebanyak 60 cm.
Lho, satu power lagi buat apa? Untuk mengeluarkan monitor TV.
Pada mesin, Naflin mencangkok turbo. Uniknya, yang dipakai justru milik Nissan Skyline R34. Pipanya dibuat custom, selain bikin pemandangan indah, juga bisa masuk; dan Naflin menghabiskan dana Rp 39 juta. "Masih harus disetel biar sempurna buat dibawa jalan," tutup Naflin.
Apa bisa dibawa ngebut dengan ceper begitu?
Mobil boleh tua, tetapi dari segi tongkrongan, Mazda RX-7 buatan 1995 ini enggak malu-maluin. Diajak tarik-tarikan pun berani karena mesin 13BT sudah disokong komponen dari GReddy. Tak heran, kalau lagi melintas di jalanan, sedan dua pintu ini banyak dilirik. "Semua part mesin dan bodi yang terpasang di RX-7 model plug 'n play dan didatangkan langsung dari Jepang," ucap Adi Surya, bos GReddy Indonesia.
Kalau saja tetap mengandalkan bodi standar, kendaraan bermesin rotary ini enggak ada bagusnya. Makanya, body kit Ings+1 tipe N dipasang sehingga memberikan efek aerodinamika yang ciamik dan tersemat rapi.
Tengok bodinya yang dibuat mirip tunggangan drifting Jepang atau balap touring di sirkuit Tsukuba. Desain air dam (saluran angin) yang superlebar pada bumper dipadu dengan sayap belakang yang lebar mengisyaratkan mobil kencang. "Sebetulnya ingin mengikuti RX-7 GReddy Jepang dengan menggunakan body kit RE Amemiya, tapi tim G-Indonesia ingin sesuatu yang lain. Maka dipilih Ings +1," ungkap salah satu kru G-Indonesia.
Khusus mengenai sayap belakang, aplikasi GT Wing lokal dinilai kurang kekar dan enggak imbang sama bodi Jepang. Untuk penyesuaian, dilakukan dengan penambahan daging. Tahap awal, sirip samping dipotong dan ditambah bahan fiberglass pada GT Wing lokal supaya lebarnya sesuai.
Untuk melebarkan sayap yang ditarik masing-masing 20 cm tidak menggunakan molding atau cetakan. Namun, cukup mengandalkan mata untuk menyeimbangkan sisi kiri dan kanan. Begitu sama, langsung dibungkus dengnan motif serat karbon, termasuk juga kap mesin.
Seusai bodi, giliran dapur pacu dioprek. Karena RX-7 mempunyai banyak tipe, mulai dari Seri 6 sampai Seri 8, akibatnya sempat sampai tiga kali melakukan pembenahan. "Karena pemesanan ke GReddy Jepang harus lebih spesifik, mulai dari tipe turbocharger hingga transmisinya," bilang Adi.
Seperti intercooler yang berada diapron terpaksa digusur dan masuk punya GReddy type R. Sayangnya, intercooler superlebar ini tidak berikut piping turbo. Mau tak mau, jalur udara dingin dari inlet turbo menuju intercooler dan throttle body harus dibuat custom.
"Piping turbo menggunakan stainless dengan diameter 5 inci mengikuti intercooler V mount," sebut Irwan, tuner dari Rosella. Hasilnya, tuner Trust Jepang memuji, "Its very good and functional."
Siapa bilang modifikasi mobil pikap menghasilkan bentuk yang kurang enak dipandang. Bos bengkel Auto Design, Bandar Lampung, Sumatera Selatan, Endang membuktikan dengan Toyota Kijang Super 1991. Aliran yang dipilihnya tidak kepalang tanggung, langsung dari Amerika, yakni truckin lowrider.
Modifikasinya mengawinkan onderdil Kijang Kapsul dan Mitsubishi Kuda. Malah dalam mewarnai bodi mobil bisa dilakukan penghematan. Interiornya didesain ulang dan dibuat dari bahan fiberglass.
Kalau dilihat dari depan sudah berubah total. Seperti kap mesin sudah diganti dengan Kijang kapsul. Penggantian ini mengakibatkan tulang depan dibuat maju 20 cm untuk mendapatkan lengkungan kap mesin, dan lampu utama pas dipasang punya Mitsubishi Kuda.
Untuk memenuhi ciri khas truckin lowrider-nya dibuatlah body kit—perpaduan bahan fiberglass dan pelat galvanis—yang mengacu pada Dynamic Tornado untuk BMW Seri 3. Dek depan digeser lebih naik 30 cm, sedangkan dek belakang 20 cm. Kemudian, efek rebah dibuat dengan memangkas atap kabin sekitar 12 cm. "Sudut kemiringan kaca depan dibuat lebih kecil, sedangkan kaca samping dan belakang bikin baru," jelas Endang.
Untuk tutup bagasi belakang memakai pelat galvanis 0,8 mm, sedangkan mekanisme engselnya diambil dari engsel bagasi Honda Genio. Shockbreaker-nya memakai punya KIA Carnival, dan untuk kesan yang berbeda, bak seolah-olah bersatu dengan kabin dengan cara disambung pakai fiberglass.
Suspensi mau tak mau harus dioprek. Dudukan per depan bagian atas dinaikkan. Begitu juga dengan bagian bawahnya sehingga jarak mainnya tetap optimal, walaupun sistem torsi sudah diputar mencapai batas ceper.
Posisi shockbreaker belakang dibuat lebih tidur agar jarak mainnya lebih banyak. Untuk mengurangi kekerasan akibat per daun, dua lembar per daun (nomor dua dan tiga) dicopot.
Untuk kabin, semua di-custom, termasuk dasbor yang dirancang menggunakan bahan fiberglass. Kemudian spidometer diadopsi dari Mitsubishi Kuda dan diletakkan di bagian tengah, sedangkan indikator Auto Gauge serta monitor TV ikut menambah warna kabin yang ekstrem tanpa kesan acak-acakan.
Selain spidometer, komponen lain dari Kuda yang dipindahkan ke Kijang di antaranya power steering, AC, dan disc brake. Komponen terakhir ini untuk mengubah penghenti laju bagian depan dari teromol menjadi cakram.
Penggarapan bodi cukup rapi. Sepatbor yang manis (tidak terlalu gembung) membuat tampilan bodi sangat elegan. Tampilan itu dipermanis lagi dengan ujung knalpot yang berada di depan roda belakang dan rata dengan bodi